Rm. Petrus Maria Handoko, CM
Kadang -kadang saudara-saudara perempuan yang Kristen Protestan merayakan Natal sebelum tanggal 25 Desember, sedangkan kita orang Katolik tidak merayakan Natal sebelum tanggal 25 Desember. Mengapa ada perbedaan itu? Mengapa dibedakan menjadi dua periode, yaitu masa Adven dari Minggu I sampai tanggal 16 Desember dan mulai tanggal 17 sampai 24 Desember?
Lucius Sumarlin, Surabaya
Pertama, sudah sejak awal berdirinya Gereja, selalu ada masa persiapan untuk merayakan kelahiran Yesus Kristus di Betlehem. Masa persiapan ini disebut masa Adven (artinya kedatangan). Itu persiapan bidang liturgis maupun penghayatan rohani pribadi.
Sasaran itu dijadikan dua, yaitu jangka panjang dan jangka pendek. Persiapan panjang diarahkan pada kedatangan Kristus yang kedua sebagai Hakim Akhir Zaman. Dan persiapan segera diarahkan pada perayaan pesta kelahiran Yesus di Betlehem tanggal 25 Desember.
Dari catatan sejarah abad IV, sudah dibedakan adanya dua makna masa Adven seperti itu. Dua makna inilah yang dipertahankan oleh Konsili Vatikan II dalam liturgi Gereja. Tidak ada masa Adven di Gereja-gereja Protestan yang bisa menjadi perwujudan keinginan untuk tampil beda dari Gereja Katolik dan kurang perhatian pada tradisi Gereja yang sudah ada sejak awal.
Kedua, masa Adven terdiri atas empat hari Minggu dengan tema utama penantian. Dua makna Adven tersebut melatar-belakangi pembedaan perayaan liturgis. Liturgi dari Minggu pertama sampai 16 Desember lebih diarahkan kepada penantian eskatologis, yaitu kedatangan Yesus Kristus yang kedua sebagai Hakim Akhir Zaman.
Bacaan-bacaan liturgis selama periode pertama memikirkan tema jangka panjang ini. Dengan demikian masa penantian Adven mengajak seluruh umat untuk memandang ke depan, yaitu ke saat akhir dari seluruh alam semesta atau saat akhir dari hidup setiap orang. Jadi, periode pertama Adven ini memberikan perspektif yang lebih mendalam untuk masa Adven periode kedua.
Mulai 17 Desember dimulailah periode kedua masa Adven sampai 24 Desember, yaitu persiapan jangka pendek. Baik dalam perayaan Ekaristi maupun dalam Ibadat Harian, semua rumusan doa, bacaan, permintaan, diarahkan lebih jelas untuk merayakan kembali kelahiran Sang Sabda sebagai bayi Yesus di Betlehem.
Dua makna Adven inilah yang menunjukkan bahwa masa Adven merangkum keseluruhan kekayaan eskatologis misteri kedatangan Tuhan dalam sejarah sampai pada pemenuhannya.
Persiapan jangka panjang menampilkan dimensi eskatologis, dan persiapan jangka pendek menunjukkan dimensi sejarah-sakramental. Keduanya sangat erat terkait dan dihayati dalam hidup setiap murid Tuhan.
Ketiga, dimensi eskatologis masa Adven menunjukkan, bahwa keselamatan yang telah kita terima dan nikmati dari Allah, masih terus berkembang menuju kesempurnaannya di akhir zaman (1 Ptr 1:5). Keselamatan yang sudah kita nikmati tetapi belum penuh adalah jaminan keselamatan Allah yang akan ditingkatkan untuk perbaikannya pada saat kedatangan Kristus yang kedua, yaitu pada “hari Tuhan” (1 Kor 1:8; 5:5).
Dimensi eskatologis ini mengingatkan kita akan tugas misioner Gereja untuk mewujudkan keselamatan itu sepenuhnya sampai pada kedatangan Kristus yang kedua sebagai Hakim Akhir Zaman.
Dimensi sejarah-sakramental masa Adven merujuk pemenuhan janji keselamatan Allah, yang sudah terwujud dalam diri Yesus, yang dilahirkan di Betlehem itu. Janji Allah diwujudkan secara sangat nyata dalam bentuk kelahiran Yesus, dalam darah dan seperti kita.
Allah yang tak terlihat itu menjadi tampak dan dapat diraba dalam diri Yesus, putra Maria, yang dilahirkan di kandang di Betlehem. Dialah Sang Penyelamat yang Allah.
