Surat kepada Ibunya di Pouy
Ibuku,
Berita yang saya peroleh dari Bpk. de Saint-Martin meyakinkan saya bahwa ibu dalam keadaan sehat walafiat. Hal itu benar-benar membuat saya gembira, namun saya merasa gelisah karena harus tinggal di kota ini guna memeroleh kesempatan untuk maju dalam karier saya. Memang sampai sekarang musibah-musibah beruntun menghalangi saya, sehingga saya tidak dapat mengabdi kepada ibu sesuai dengan kewajiban saya. Tetap saya menaruh harapan kepada Tuhan, semoga Dia sudi memberkati segala usaha saya dan segera memberikan kepada saya jalan agar dapat mengundurkan diri dengan tenang dan untuk selanjutnya tinggal dekat dengan ibu.
Saya telah memberitahu Bpk. de Saint-Martin mengenai segala urusan saya, karena beliau berniat menggantikan Bpk. de Comet dalam perhatian dan kebaikan terhadap keluarga kita. Saya telah minta kepada beliau agar semuanya disampaikan pula kepada ibu.
Sebetulnya saya ingin mengetahui keadaan keluarga, kakak-adik serta semua saudara dan sahabat. Secara khusus saya mohon kabar mengenai adik saya Gayon; apakah sudah menikah dan kalau sudah, dengan siapa; juga mengenai adik Maria de Paillole, apakah masih hidup dan masih tinggal serumah dengan iparnya Bertrand. Mengenai adikku yang satunya, saya rasa dia dalam keadaan baik saja, bila Tuhan berkenan menjaga kesehatan suaminya. Saya ingin agar kakak saya menyuruh salah seorang anaknya belajar. Musibah-musibah yang telah saya alami serta kenyataan bahwa saya belum bisa memberi bantuan apapun pada keluarga, mungkin membuat dia putusasa. Namun kita tahu bahwa kegagalan masa kini adalah petunjuk keberhasilan untuk masa mendatang.
Hanya inilah, Ibuku, yang dapat saya sampaikan melalui surat ini. Di samping itu, saya mohon Ibu sudi menyampaikan salam hormat saya kepada kakak-adik dan kepada semua saudara serta sahabat. Tanpa henti-hentinya saya berdoa, semoga Tuhan menjaga kesehatan ibu dan kesejahteraan seluruh keluarga, sementara saya, Ibuku, tetap anak dan hamba yang paling bersahaja, paling taat, dan paling siap mengabdi.
Vinsensius de Paul
Saya mohon dengan sangat agar Ibu menghaturkan salam hormat saya kepada semua kakak-adik, kepada semua saudara dan sehabat, dan khususnya kepada Betan.
(SV I, 18-20)
Beberapa keterangan
Surat ini ditulis di Paris. Vinsensius sudah hampir 10 tahun ditahbiskan menjadi imam (23 September 1600, pada waktu umurnya belum mencapai 20 tahun). Selama ini Vinsensius berhasil menyelesaikan studinya di Universitas Toulouse (1604). Namun kegagalan dan musibah yang dialaminya sungguh banyak. Beberapa kali dia menyusun rencana untuk maju dalam karier: misalnya menjadi pastor di Tilh, mungkin juga menjadi uskup dan akhirnya pergi ke Roma untuk memeroleh suatu jabatan. Seluruhnya gagal. Bahkan selama 2 tahun (1605-1607) Vinsensius menjadi budak di Afrika.
Surat kepada ibunya ini memperlihatkan dengan jelas cita-citanya pada waktu itu:
- Maju dalam karier
- Mengundurkan diri untuk tinggal di desanya bersama dengan ibunya
- Memberi bantuan ekonomi kepada keluarga
- Tuhan mendapat tempat dalam falsafah hidup Vinsensius, tetapi sebagai pendukung rencana Vinsensius (“semoga Tuhan memberkati segala usaha saya … “)
Dalam perkembangan selanjutnya, cita-cita Vinsensius mengalami perubahan menyeluruh, seperti tergambar dalam kutipan konferensi berikut ini:
“Para Romo, kita harus sepenuhnya milik Tuhan dan sekaligus terarah kepada pelayanan bagi masyarakat. Demi tujuan ini kita harus menyerahkan diri kepada Tuhan, menghabiskan diri, memberikan hidup kita. Biar kita telanjang, bila dapat dikatakan demikian, agar oranglain memeroleh pakaian. Sekurang-kurangnya inilah kesediaan yang perlu kita usahakan, apabila kita belum memilikinya; siap sedia untuk pergi ke mana saja yang Tuhan kehendaki, entah ke India entah ke tempat lain; pendek kata, kita harus melibatkan diri dengan gembira dalam pelayanan kepada sesama, dalam usaha memperluas Kerajaan Kristus dalam jiwa-jiwa.
Mengenai saya sendiri, meskipun sudah tua dan lanjut usia, saya juga tidak boleh melepaskan kesediaan ini dari diri saya, yaitu kesediaan untuk pergi ke daerah India guna merebut jiwa-jiwa bagi Tuhan, meskipun ada kemungkinan saya akan mati dalam perjalanan atau dalam kapal.”
(SV XI, 402)
