Sabtu, 8 Januari 2022
Dalam suasana malam minggu, dengan diterangi lilin dan lampu senja, bidang Paguyuban mengadakan kegiatan Talkshow “Bahtera” untuk menggali proses perkembangan Gereja Langsep. Sungguh Agung Karya-Mu, menjadikan kami pelita, yang menjadi tema pesta emas paroki kita, dikupas tuntas dalam bentuk cerita pengalaman hidup menggereja oleh para tokoh dan saksi sejarah.
Romo Handoko, dalam pengantarnya mengajak umat, baik yang hadir secara offline maupun secara online untuk melihat sejarah Gereja Langsep ini dengan dua pendekatan. Yang pertama, Gedung Gereja (aspek fisik) dan Gereja sebagai umat Allah (aspek paguyuban).
Aspek Gedung Gereja (fisik) dibagi dalam empat tahap yakni Gereja “nunut”, Gereja “Kamar Mandi”, Gereja “Bahtera” dan Gereja “Bahtera Mengarungi Zaman.”
- Gereja “Nunut”. Nunut ini berasal dari Bahasa Jawa yang artinya numpang, nebeng. Pada masa ini kita belum memiliki gedung Gereja. Maka kegiatan misa Mingguan dan harian diadakan “nunut” di Seminari Tinggi CM, dan kalau hari Raya juga “nunut” di SMAK St. Maria.
- Gereja “kamar mandi”. Periode ini adalah masa ketika kita memiliki Gereja yang dindingnya dikeramik separuh seperti bentuk kamar mandi.
- Gereja “Bahtera” adalah masa dimana proses pembangunan gereja dilakukan.
- Gereja “Bahtera Mengarungi Zaman” adalah masalah setelah pembangunan hingga sekarang.
Turut hadir dalam acara yang diprakarsai oleh Bidang Paguyuban bersama OMK ini, Rm. Antonius Sad Budianto, CM sebagai saksi sejarah Gereja Langsep, para ketua lingkungan, pengurus DPP, para mantan ketua DPP, koordinator orka, tim buku kenangan.
