Surat kepada Rene Almeras, Pimpinan Rumah CM di Roma
Surat Romo untuk … sudah saya kirimkan. Apa yang telah Romo tulis kepadanya tentang Florence sudah tepat. Berkat dorongan rahmat Tuhan, sampai sekarang kita tidak pernah mengejar karya apa pun, langsung atau tidak langsung. Kalau percaya kepada saya, maka Serikat akan senantiasa berpegang pada sikap yang sama. Karena, kalau kita bermutu, kita tidak pernah akan kekurangan karya, sedangkan kalau kita tidak bermutu, karya yang sudah kita pegang malah terlalu banyak; apalagi kita dengan susah payah hanya dapat mencukupi kebutuhan rumah-rumah kita, meskipun jumlahnya sangat kecil.
Saya mendengar bahwa Bapak Uskup Agung Toulouse sudah lama menunggu kalau-kalau saya menunjukkan tanda bahwa Serikat kita ingin berkarya di keuskupannya, dan Beliay akan langsung memanggil kita dan akan menyerahkan pembinaan Seminarinya kepada kita. Tetapi saya berusaha seapat mungkin untuk tidak menunjukkan tanda apapun padanya. Beberapa hari yang lalu salah seorang saudaranya berada di sini dan lama berusaha memancing saya mengenai masalah ini. Tetapi dengan sengaja saya menghindari pembicaraan tentang hal itu. Supaya bisa melangkah dengan mantap, kita harus menunggu panggilan Penyelenggaraan Ilahi dan mengikuti-Nya.
(SV III, 545)
Keterangan:
Pada jaman Vincentius “karya” pada umumnya menjadi rebutan karena bersama dengan “karya” tertentu selalu terdapat sumber dana yang memungkinkan karya itu berjalan. Misalnya Uskup dari sebuah kota menyerahkan pembinaan seminarinya pada CM. Bersama tugas ini CM menerima juga dana (dalam bentuk bengkok, atau ha katas pajak tertentu dan lain-lain) yang mendukung tugas tersebut. Rupanya di kota Florence (Italia) ada “karya” yang ingin diserahkan kepada CM.
