Pertanyaan:
Oleh sakramen perkawinan, hubungan suami istri itu sah dan suci. Tetapi mengapa anak mereka tetap terkena dosa asal?
Jawaban:
Dosa asal (dosa warisan) adalah dosa yang diwariskan oleh manusia pertama kepada seluruh umat manusia. Ajaran berdasarkan Roma 5:12-21, yang antara lain berbunyi, “Sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dos aitu juga maut, demikianlah maut telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa” (ay. 12)
Di sini, umat manusia digambarkan sebagai “Satu Tubuh” yang ikut merasakan nasib nenek moyangnya. Dengan kata lain ada semacam solidaritas di antara umat manusia. Di satu sisi, dosa asal berupa hilangnya rahmat persekutuan mesra antara manusia dan Allah, yang pernah dinikmati manusia pertama sebelum berbuat dosa. Di sisi lain, dosa asal berupa kecenderungan kodrat manusia untuk berbuat dosa. Ajaran mengenai dosa asal memang sulit untuk diterangkan. Masalahnya ialah bagaimana dosa pribadi Adam dapat menular kepada semua manusia. Katekismus Gereja Katolik no. 404 mengatakan, “Penularan dosa asal adalah suatu misteri yang tidak dapat kita pahami sepenuhnya.” Akan tetapi, yang jelas, meskipun persetubuhan antara dua orang yang sudah menerima sakramen pernikahan adalah sah dan suci, dosa asal tetap menular kepada anaknya. Mengapa? Sebab dosa asal bukanlah dosa yang ada kaitan dengan suci atau tidaknya persetubuhan orangtua, melainkan berkaitan dengan solidaritas umat manusia.
Sumber: Umat Bertanya Romo Pid Menjawab. Yogyakarta: Kanisius, 2000.
