Surat kepada Jean Dehorgny, Pimpinan Rumah CM di Roma

13 Juni 1652
Apa yang Romo tulis tentang misi umat yang sedang Romo lakukan itu, menuntut dari kita rasa terimakasih mendalam terhadap Tuhan. Dan saya bersyukur kepada-Nya dengan segenap perasaan hati saya. Marilah berdoa Romo, agar Dia memperoleh kemuliaan yang lebih besar dari karya-karya serikat kita. Percayalah kepada saya Romo; saya harus menegaskan bahwa kita perlu bertekun senantiasa dalam karya-karya kita yang pokok. Tuhan akan selalu mendukung dan memberkati kita, sejauh kita dengan setia melaksanakan karya-karya itu. Saya tidak pernah akan meninggalkan keyakinan saya ini.
Saya baru pulang dari pertemuan penting, yang telah dipimpin oleh Uskup Reims yang baru terpilih. Dalam kesempatan itu, saya menyinggung Romo juga. Pertemuan itu mengenai para petani miskin yang telah mengungsi ke Paris dalam jumlah yang sangat besar dan dalam keadaan yang sangat memprihatinkan. Pada permulaan, telah dibicarakan bagaimana memenuhi kebutuhan jasmani mereka. Saya menawarkan misi untuk mereka sesuai dengan prinsip hukum: “apa yang menjadi milik kita dapat kita ambil di mana-mana.” Tentu melayani mereka di desa-desa adalah kewajiban kita, kalau mereka berada di desa, karena mereka merupakan warisan kita. Tetapi sekarang mereka mengungsi ke kota, terdesak oleh kekejaman perang yang menghancurkan daerah mereka. Saya pikir sebaiknya kita merasa wajib bekerja untuk mereka, terutama di saat mereka ditimpa kemalangan. Tetapi semua ini dengan restu Bapa Uskup.
Tentu ada kemungkinan bahwa ada orang yang bisa mengajuka keberatan, yaitu kita tidak boleh memberi misi umat di kota, tempat uskup berkedudukan. Tetapi saya sudah menjawab bahwa bila para pejabat Gereja sendiri memberi kita perintah untuk melakukan misi di kota, maka ketaatan kepada mereka tidak memungkinkan kita menghindari tugas tersebut. Dan dalam pertemuan itu, saya jelaskan bahwa Romo sendiri baru selesai memberi misi di kota Terni atas perintah Kardinal Rapaccioli. Dengan alasan yang sama, kami dapat memberi misi di Paris karena uskup Paris sendirilah yang memberi perintah. Lebih-lebih karena misi ini hanya dimaksudkan untuk para pengungsi yang malang itu.
Romo merasa bahwa ada pejabat Gereja yang menentang serikat kita. Romo juga merasa prihatin atas prakarsa Bapak de Ventadour. Mengenai semua ini, ijinkanlah saya dengan tegas mengemukakan prinsip-prinsip saya: kita ini milik Tuhan dan kita harus menginginkan agar orang lain pun menjadi milik Tuhan. Dalam Gereja, kita patut pandang sebagai pekerja yang paling rendah; maka kita harus bergembira bila Allah memanggil pekerja yang lebih baik dari pada kita. “Quis tribuet ut omnis populus prophetet et det eis Dominus Spirituum Suum?” (“Ah, kalau seluruh umat Tuhan menjadi nabi, oleh karena Tuhan memberikan Roh-Nya hinggap pada mereka!” Bil. 11:29). Bila mereka yang muncuk mempunya Roh Tuhan, mereka tak dapat merugikan kita kalau kita berjalan lurus. Seluruh kepercayaan kita hanya kepada Tuhan saja. Sekali kita bertumpu pada dasar ini, kita harus mempunyai keyakinan bahwa kita hanya mendapat perlakukan yang diijinkan oleh Tuhan. Saya tidak menyetujui sangkaan-sangkaan Romo tentang prakarsa orang lain, lebih-lebih karena saya berusaha dengan segala kemampuan untuk menghindari intrik-intrik yang biasa digunakan di dunia. Dalam nama Tuhan, Romo, marilah berusaha menghindari kecurigaan-kecurigaan serta intrik-intrik.
Saya tidak tahu apakah Romo Yesuit sedang melakukan sesuatu untuk mempersulit kita; saya rasa tidak. Namun, bagaimanapun biarlah orang lain bertindak sesuka hati mereka. Bagi kita yang terpenting adalah bersatu dengan Tuhan. Penindasan bila diterima dengan baik akahirnya akan membawa hasil yang baik juga; dan berbahagialah mereka yang dianiyaya karena kebenaran.
(SV IV, 397-399)
